UNYQUA, air minum resmi Gerakan Beli UNY

Jogjakarta, 09/11/2013,  Gedung tennis in door Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri  Yogyakarta  (UNY) Sabtu siang bergemuruh oleh teriakan  1.700  lebih mahasiwa.  Mereka  meneriakkan yel-yel “Beli UNY Bela UNY”  sebagai penanda deklarasi gerakan Beli UNY.  Seorang mahasiswa maju naik  panggung  membacakan ikrar Beli UNY yang diikuti oleh semua peserta.  Ikrar yang tertuang dalam selembar kertas berukuran 40 x 60 cm itu kemudian ditandatangani oleh perwakilan badan mahasiswa semua  fakultas.  Rektor UNY, Prof. Dr Rochmat Wahab,  sebagai orang terakhir yang menandatangani ikrar Beli UNY itu.

Acara ini dimeriahkan oleh 40 siswa SD Baitussalam yang  memainkan angklung menyanyikan lagu-lagu perjuangan.  Aksi para siswa SD semakin heroik  dan menyentuh ketika seorang siswi  berdeklamasi tentang Ibu Pertiwi yang diringi dengan instrumental angklung “Kulihat Ibu Pertiwi” sebagai  backsoundnya.  Sementara para mahasiswa  UNY lainnya   memeriahkan acara ini dengan menggelar berbagai produk yang mereka bikin sendiri  di sisi kanan dan kiri ruangan.  “Ini adalah momen unjuk kekuatan bahwa UNY menolak dijajah oleh produk asing,” tegas Suci, ketua panitia  acara itu.

Sebelum deklarasi,  tiga orang pembicara menyampaikan orasinya, Rektor UNY, Prof. DR. Rochmat Wahab,  Tokoh muda Yogyakarta, Hanafi Rais dan Pemimpin Gerakan Beli Indonesia, Heppy Trenggono.  “UNY ini adalah kampus untuk membangun  manusia yang  takwa, cendekia dan mandiri,” kata Prof. Rochmat.   Entrepreneurship, lanjut Rochmat adalah  maindset semua civitas akademika  sebagai sebuah ketrampilan hidup yang harus dimilik oleh semua orang UNY.  Entrepreneurship ini membuat mahasiswa mandiri tanpa ada rasa  gelisah  setelah  lulus.  “UNY sedang membangun sebuah plaza kampus untuk mahasiswa memasarkan produknya kepada masyarakat luas,” jelas Rochmat.   Prof. Rochmat  menceritakan bahwa batik merah hati yang dikenakannya adalah batik asli produk UNY dan semua air minum dalam acara ini adalah  Unyqua, yakni air kemasan yang diproduksi oleh UNY.

Hanafi Rais, pembicara kedua mengungkap sejumlah fakta tentang  rencana pembanguan industri pasir besi di Jogjakarta bagian selatan.  “Saya tidak tahu bagaimana nasib masyarakat di pesisir selatan  itu jika investor asing masuk membangun tambang pasir besi di tempat itu,” kata Hanafi.  Kita, kata Hanafi seperti tidak punya konsep membangun ekonomi dan menganggap  semua yang terjadi di depan mata sebagai sesuatu yang baik-baik saja.  Di Jogjakarta, lanjut Hanafi, kita masih bersyukur karena symbol budaya dan kearifan lokal masih terjaga.  Tetapi banyak daerah yang memiliki warisan  budaya yang bernilai tinggi sudah tidak berbekas.  Beberapa peninggalan seperti kraton atau situs-situs sejarah  lainnya banyak yang dibiarkan merana begitu saja.

“Beli Indonesia itu tidak anti asing, tetapi kita anti  penjajahan,” kata Pemimpin Gerakan Beli Indonesia, Heppy Trenggono, Pembicara terakhir.  Membela produk  anak bangsa sendiri bukan karena kita anti kepada bangsa lain tetapi karena kita tidak mau dijajah. Penjajahan itu  nyata dan ada,  hadir dalam bentuk dan modus yang berbeda. “UNY sangat memahaminya. Air minum Unyqua itu adalah bentuk jelas penolakan terhadap penjajahan itu,” jelas Heppy.  Mengapa sekedar air minum harus kita serahkan kepada asing. Tanpa proses yang rumit sekedar memberi merek dan kemasan saja kita tidak  mampu melakukannya. “Itulah entreneurship sebuah cara berfikir dan bermain kaya,” ungkap Heppy. Jika hal-hal kecil saja kita tidak memahami maka wajar saja dalam hal-hal besar dan strategis  kita  terjajah dan menjadi korban.

Didampingi Prof. Rochmat, Heppy Trenggono berkeliling melihat produk buatan mahasiswa. Selain sibuk melayani tawaran untuk mencooba produk, Pemimpin Gerakan Beli Indonesia itu terlihat sibuk melayani permintaan foto bersama. (2as)

Leave a Reply