“Tidak Usah Mengeluh, Perjuangkan!”

Semarang, 11/11/2013.  Di sela-sela istirahat pemilihan rektor Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang, di sebuah hotel di Semarang,  dua orang tokoh beda generasi itu bertemu. H. Ali Mufidz, sesepuh NU mantan Plt Gubernur Jawa Tengah  dan Heppy Trenggono, Pemimpin Gerakan Beli Indonesia.  Pertemuan itu seperti mengulang pertemuan pertama keduanya di tempat yang sama dua tahun lalu   Ketika itu ada sebuah jamuan makan malam tokoh-tokoh Jawa Tengah  yang diisi dengan presentasi Gerakan Beli Indonesia.

“Saya itu mengikuti terus lo, gerakan Beli Indonesia,” Ali Mufidz membuka bicara.  Dari perjalanan bertemu dengan banyak kalangan, beberapa menyinggung tentang Beli Indonesia, utamanya ketika berbicara tentang dominasi asing dan kedaulatan Indonesia.  Ali Mufidz bercerita tentang anak-anak muda yang datang kepadanya menyatakan kerisauan  dan kegelisahannya  dengan keadaan Indonesia.  “Hampir sama yang mereka sampaikan,  Indonesia yang sudah terjajah dan tidak  berdaulat dalam banyak hal terutama ekonomi,” kisah Mufidz.  Mereka itu rata-rata aktifis, pengusaha dan anggota legisltaif.

Sayangnya, kata Mufidz hampir semuanya hanya mengeluh dan tidak melakukan apa-apa. “Pernah suatu ketika  seorang  anak muda anggota legisltif mengeluhkan tentang  undang-undang di Indonesia yang sudah dikuasai asing,” jelas Mufidz.  Begitu  diminta untuk melakukan upaya hukum agar undang-undang itu dianulir, yang dia sampaikan  adalah resiko dan sulitnya melakukan upaya itu.  Sehingga dari alasan yang dikemukakannya itu hampir mustahil untuk bisa dikerjakan.  Intinya, hanya alasan untuk tidak berbuat apapun.

Ada juga pengusaha muda yang mengeluhkan tentang produk asing yang menguasai  pasar Indonesia. Media-media yang telah dikuasai sehingga tidak pernah terdengar berita buruk tentang perusahaan-perusahaan besar itu.  Pernah juga aktifis pemuda yang mengadu tentang petani, nelayan dan pedagang yang makin terjepit  sehingga  untuk sekedar hidup saja sulit. “Tapi itu tadi, jika diminta melakukan sesuatu untuk merubah keadaan itu, jawabannya selalu alasan,” katanya sambil tertawa.  Padahal yang dibutuhkan saat ini adalah keberanian memutuskan untuk melakukan satu tindakan untuk merubah semua keadaan itu.

“Saya sangat apresiate dengan  gerakannya Mas Heppy dan kawan-kawan  di Beli Indonesia,” katanya memuji. Apreasiasi  itu, lanjut Mufidz, bukan hanya karena kecemerlangan idenya tetapi juga adalah keberanian melakukan untuk mewujudkannya.  “Saya melihat ada kesungguhan, kesabaran  dan konsistensi  Mas Heppy dan kawan-kawan dalam gerakan itu,” ucapnya.   Mufidz mengaku tidak membayangkan gerakan ini bisa sejauh ini. Meskipun pertama kali mendengar presentasinya 2 tahun lalu itu  dirinya merasa yakin gerakan ini bisa menjadi cara mengeluarkan Indonesia dari keterpurukannya.  Berkaca dari situlah  setiap kali ada anak muda atau siapapun yang menyampaikan keluhan lagi kepadanya Mufidz mengatakan sudah memiliki satu kalimat jawaban,” Tidak usah mengeluh, perjuangkan!”

“Terima  kasih atau segala dukungannya selama ini. Gerakan ini membutuhkan banyak energi untuk bisa bergerak  cepat.  Dukungan moral dan dorongan dari orang seperti Bapak sangat kami butuhkan,”  kata Heppy membalas ucapan.  Heppy mengisahkan tentang perjalanan awal Beli Indonesia yang berkeliling menemui para tokoh untuk meminta restu dan dukungan. “Perjalanan Beli Indonesia hari ini tidak terlepas dari doa orang-orang tua dan mereka yang gelisah terhadap keadaan bangsa hari ini,” jelas Heppy.

“Bagaimana ceritanya bisa menjadi  penguji calon rektor ini?” tanya Ali Mufiidz mengalihkan pembicaraan.  Heppy Trenggono pun kemudian menceritakan awal mula dia diminta untuk menjadi penguji calon rektor Unissula itu.   Mulai dari surat ketua Yayasan Unissula yang memintanya untuk menjadi  penguji calon rektor itu hingga nama-nama calon rektor yang akan mengikuti seleksi.  Ada 6 guru besar dan 2 orang doktor yang ikut dalam seleksi itu.    Pembicaraan kedua orang itupun berakhir seiring dengan selesainya makan siang keduanya. Dua orang itu pun  beranjak menuju musholla di lantai 2 untuk melaksanakan  sholat Zuhur.(2as)

Leave a Reply