Pemimpin Gerakan Beli Indonesia dan Gubernur NTB Bertemu Bahas Kemandirian Ekonomi

Jakarta, 27/01/2018. Rencana pemerintah mengimpor 500.000 ton beras melalui Kementrian Perdagangan begitu mengejutkan publik dan masih meninggalkan sejumlah kejanggalan yang belum bisa dijelaskan. Kementrian Pertanian menyatakan stok beras cukup sehingga tidak perlu impor. Impor beras dilakukan menjelang adanya panen raya pada akhir bulan ini, beras yang diimpor pun jenis premium bukan medium padahal persoalannya ada diberas medium.

Hal ini menjadi salah satu bahasan dalam pertemuan antara Gubernur Nusa Tenggara Barat, TGB Muhammad Zainul Majdi dengan Pemimpin Gerakan Beli Indonesia, Heppy Trenggono di kawasan Menteng, Jakarta Pusat beberapa waktu yang lalu. Konteks besarnya adalah bagaimana mewujudkan kemandirian ekonomi bangsa Indonesia kedepan.

“Hal ini hanya persoalan distribusi antar daerah semata, bukan kekurangan stok, sehingga situasi ini seharusnya kita jadikan peluang untuk petani kita bukan malah di guyur impor yang dilakukan karena melihat gejolak harga di beberapa pasar induk di Jakarta” ulas TGB Madji terkait renca impor beras tersebut.

TGB Majdi menambahkan bahwa sejumlah kepala daerah pun mengaku tidak memerlukan beras impor, Gubernur Sulawesi Selatan, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Jawa Timur, Bupati pun tidak kalah banyak seperti Kulonprogo, Sukabumi, Purwakarta, Mempawah, Merangin, Sergi, Serdang Bedagai, Serang, Tanah Bumbu, bahkan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Idonesia (Apkasi) tutut mendesak pemerintah membatalkan rencana impor beras dari Vietnam dan Thailand tersebut.

Heppy berpandangan bahwa upaya menstabilkan harga dengan melakukan kebijakan impor sebuah komoditi tertentu dalam negeri itu wajar dilakukan dibanyak Negara, Itupun harus benar-benar dipelajari agar kebijakan itu tidak kontra produktif atau malah dapat memukul kondisi petani dalam negeri. Namun menjadi tidak wajar apabila impor dilakukan setiap tahunnya.

Kebiasaan impor terlihat enak dalam jangka pendek namun akan menjadi bumerang bagi upaya pembangunan kemandiri ekonomi sebuah sebangsa menurut Pemimpin Gerakan Beli Indonesia. Impor pun akan memberatkan rakyat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Ibarat mengonsumsi candu, terlihat enak sesaat namun sengsaranya lama bahkan bisa berujung fatal.

Apa jadinya bangsa kita kelak kalau setiap persoalan seperti ini seolah hanya impor solusinya? Kita harus putuskan sekarang, potensi sebagai pasar ke empat terbesar di dunia ini akan kita berikan kepada siap? untuk petani sendiri atau petani bangsa lain. Untuk ekonomi bangsa sendiri atau ekonomi bangsa lain. Produk Indonesia artinya ekonomi Indonesia, produk asing artinya ekonomi bangsa asing.

TGB Majdi menyambut baik usulan dari pejuang Beli Indonesia, Dede Muharram yang juga pemprakarsa pertemuan tersebut, agar “Beli NTB” dan “Bela NTB” bisa segera bergema di bumi seribu masjid itu. Dengan begitu ada sebuah sikap dan komitmen bersama dari berbagai lapisan masyarakat bahwa yang harus kita bela ada kepentingan bangsa kita sendiri, kepentingan petani kita sendiri. Dengan begitu kita memiliki harapan untuk mensejahterakan petani dan masyarakat serta berpeluang besar memenangkan percaturan ekonomi dunia ditengah wabah Globalisasi.

“Saya akan kumpulkan pengusaha, aparat dan masyarakatt disana. Perlu juga duduk merancang program-programnya, sehingga bisa langsung dirasakan masyakat saya, bahkan mensejahterakan masyarakat seperti yang sudah terjadi di Kabupaten Kulonprogo”

Heppy menegaskan bahwa kemandirian sebuah bangsa akan terjadi mana kala pembelaan terhadap produk dan karya anak bangsanya sudah menjadi ideology, menjadi sesuatu yang unnegotiable bagi mereka. ANS

Leave a Reply