Membangun Kejayaan Bangsa

berita-bi

Semarang, Juni 2015. Pertanyaan besar yang harus kita jawab adalah bagaimana dengan kekayaan yang dimiliki bangsa ini menjadi kekuatan dalam mewujudkan cita-cita kemerdakaan, menjadi bangsa merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur?

Dalam acara workshop Muslimpreneurs bertajuk “Menjadi Pengusaha Rahmatan Lil’alamin” yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri Kota Semarang bekerjasama dengan Masjid Kampus Universitas Diponegoro, Presiden IIBF Ir. H. Heppy Trenggono menyampaikan pentingnya membangun mentalitas kaya. “Bagaimana seseorang yang memimpin sebuah negara akan membangun kesejahteraan bangsanya jika dia tidak faham tentang bagaimana membangun dan mengelola kekayaan negerinya? Maka Entrepreneurship itu harus dimiliki oleh semua orang, apakah dia pengusaha, seorang mahasiswa seperti kalian, pegawai, terlebih-lebih para pemimpin.” terangnya saat memberikan ceramah di hadapan 290 mahasiswa dan pengusaha asal semarang Ahad Pagi (14/6) pekan kemarin.

Kaya dan miskin bukan sebuah keadaan, melainkan mentalitas. IIBF menerjemahkan Entrepreneurship artinya bermain kaya. Tanpa entrepreneurship seseorang tidak bisa mengelola kekayaannya. Negara-negara hebat di dunia saat ini adalah negara-negara yang dibangun dan dipimpin oleh seorang yang memiliki jiwa entrepreneurship. “China tidak akan bisa menjadi seperti hari ini jika Deng Xiao Phing tidak memiliki jiwa entrepreneurship. Singapura juga tidak akan seperti sekarang jika Lee Kwan Yew tidak memiliki mindset entrepreneurship,” jelas Heppy.

Heppy menambahkan permainan dunia ini sesungguhya adalah permainan ekonomi. Berbicara ekonomi tidak bisa dilepaskan dari aspek menjual dan membeli. Penjual melihat peluang, kesempatan dan lain sebagainya untuk dijadikan uang sebagai alat membangun kesejahteraannya, sementara pembeli hanya menghabiskan uang yang dimilikinya dan kalau tidak terkontrol bisa bangkrut.

Sedangkan yang lain-lain seperti politik dan militer adalah permainan yang digunakan untuk menunjang tujuan ekonomi. Maka jika seorang pemimpin tidak memiliki kecerdasan ekonomi maka hampir dipastikan bangsa yang dipimpinnya akan menjadi bangsa miskin. “Negaranya boleh jadi adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam tetapi bangsanya menjadi bangsa miskin karena pemimpinnya yang tidak cerdas ekonomi,” ungkap Heppy. Sebaliknya, kata Heppy banyak negara di dunia yang tidak memiliki banyak sumber alam tapi menjadi bangsa hebat dan jaya karena pemimpinnya yang cerdas mengelola kekayaan.

Tahun 2014 APBN Indonesia baru 2.000 triliun, bandingkan dengan Jepang yang mencapai 9.600 triliun. Padahal Jepang tidak memiliki kekayaan seperti Indonesia. Jepang dan Indonesia sama-sama membangun dari tahun 1945, bedanya Jepang dari luluh lancak akibat bom atom sedang Indonesia lepas dari belenggu penjajahan.
Maka kunci untuk mewujudkan kejayaan Indonesia adalah komitmen untuk menjadi bangsa pintar, bangsa bermentalitas kaya, bermain bukan sekedar untuk tidak kalah tetapi bermain untuk menang, baik dari aspek kepemimpinan maupun mentalitas bangsanya.

Kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, namun lebih dari itu kepemimpinan adalah model dari sebuah karakter bangsa yang memahami cita-citanya, nilai-nilai yang dibela, komitmen dalam mewujudkan mimpi bangsanya.
Menjadi bangsa pintar adalah satu-satunya pilihan yang harus kita tempuh untuk keluar dari keterpurukan dan meraih kejayaan Indonesia. ANs

Leave a Reply