Komitmen Beli Sragen untuk entaskan masyarakat dari kemiskinan

Tanpa kita sadari bahwa konsep sukses anak-anak kita sudah bergeser. “perhatikan ya, ditengah-tengah masyarakat kita, devinisi sukses itu jika mampu membeli ini dan itu. Padahal china hari ini disebut sukses bukan karena banyak membeli tetapi karena jualannya kemana-mana. Pertanyaan saya, lebih banyak mall yang berdiri atau pabrik yang berdiri hari ini? Bagaimana bangsa kita tidak miskin.” terang Heppy.

Akibatnya banya orang tua yang menganggap ‘jualan’ seperti aib. “banyak tetangga dikampung yang nitip anak disaya Cuma catatannya kalau bisa jangan dijadikan sales. Ekonomi itu jika diperas namanya perdagangan. Jika diperas lagi namanya jualan. Tanpa jualan batu bara, minyak bumi, tidak akan menghasilkan uang/kekayaan” ungkap Pemimpin Gerakan Beli Indonesia. itulah tantangan cultural yang harus kita babat habis.

Selanjutnya adalah persoalan struktural. Maju mundurnya sebuah bangsa sangat dipengaruhi sektor swastanya.  Sayangnya swasta dalam negeri sulit berkembang dengan berbagai kendala yang sering di hadapi. Perizinan yang rumit dan berbelit adalah contohnya papar Heppy. Bahkan di jakarta ada zonaisasi, hanya pada alamat tertentu yang bisa mendapatkan izin usaha. Perizinan ini luas lingkupnya. Termasuk peraturan yang tajam kebawah tumpul keatas.

Sebut saja kasus susu berbakteri, meski sudah diperintahkan oleh Mahkamah Agung untuk mengungkap kepublik produk mana saja yang mengadung virus namun kampus yang bersangkutan tidak mau membukanya. Mengapa demikian karena berhubungan dengan perusahaan besar dan multinasional company. Sayanganya giliran menimpa pengusaha kecil cepat sekali diekspos. “dulu usaha pengisian air ulang menjamur dimasyarakat, lalu ada berita yang mengungkapkan penelitian pada suatu perguruan tinggi bahwa air isi ulang mengandung ini dan itu, intinya tidak sehat, hal itu di bahas setiap hari. Akibatnya banyak pengusaha isi air ulang berguguran”.

Jadi membangun ekonomi itu prinsipnya sederhana, jualan kemana saja, tetapi beli dari sudara sendiri. Itulah spirit beli Indonesia. Ketika diterjemahkan menjadi bela dan beli kulonprogo dalam 3 tahun kemiskinan berkurang hingga 8 persen tutur Heppy.

Dengan segenap sumberdaya yang dimiliki oleh Gerakan Beli Indonesia juga Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) periah anugerah tokoh perubahan Indonesia dari republika tersebut menyatakan kesiapannya membantu pemda Sragen mengentaskan kemiskinan. Bukan hanya miskin secara fisik namun juga miskin secara mentalitas. ANS

 

1
2

Leave a Reply