Kita Ini Harimau bukan Bangsa Marmut

Makassar, 29/08/2013. Indonesia hadir sebagai sebuah negara merdeka bukan karena pemberian atau hadiah dari bangsa lain, tetapi dengan perjuangan dan pengorbanan  melalui tetesan keringat, darah dan air mata para pejuang.  Para pejuang itu adalah mereka yang memiliki jiwa dan semangat juang untuk membuat bangsanya menjadi lebih baik, bukan orang yang hanya sibuk untuk mengurus dirinya sendiri.

 “Pejuang-pejuang negeri ini adalah mereka yang memiliki keberanian seperti harimau bukan bangsa marmut,” kata Pemimpin Beli Indonesia, Heppy Trenggono di depan pengusaha Sulawesi Selatan di Makassar, Kamis siang. Di Makassar sendiri, lanjut Heppy  memiliki banyak   pejuang kemerdekaan yang peninggalannya masih bisa disaksikan.  “Tidak  mungkin kerajaan Gowa dapat mengendalikan perdagangan di wilayah timur Nusantara jika mereka hanya marmot,” jelas Heppy.  Bahkan mereka sudah memiliki armada dagang sampai ke Philipina di utara dan Australia di Selatan. Ke Timur sampai ke kepulauan Madagaskar.

Indonesia, kata Heppy membutuhkan banyak pejuang bernyali harimau karena negeri ini telah dipegang tengkuknya oleh bangsa asing. Apapun yang diinginkan oleh bangsa asing itu terhadap Indonesia akan terjadi tanpa harus mengeluarkan banyak waktu tenaga dan biaya. Kekayaan alam yang tidak terkira ini dan jumlah penduduk kita yang besar benar-benar telah diserahkan kepada orang lain, termasuk nasib anak-anak kita. “Padahal Sultan Hasanuddin telah mencontohkan kepada kita bagaimana kita bersikap  terhadap bangsa lain yang ingin menjajah kita,”  kata Heppy.

Heppy mengatakan dirinya sangat optimis  terhadap masa depan negeri ini karena  anak-anak negeri masih memiliki nyali bangsa harimau seperti leluhurnya di masa lampau.  “Saya bisa merasakan orang-orang yang ada di hadapan saya ini  adalah mereka yang memiliki nyali harimau yang siap menerkam siapapun yang berniat menjajah negeri dan bangsanya,” kata Heppy yang disambut tepuk tangan hadirin.  Sebagai bangsa besar dengan leluhur orang-orang besar, anak-anak bangsa ini tetap mewarisi keberanian dan semangat para leluhurnya yang  mengalir dalam aliran darah dan detak nadinya.  Tinggal membangkitkannya saja.  “Jika dia bangkit maka raksasa yang bernama Indonesia itu akan bangun dan juga membangunkan bangsa-bangsa lain yang tertindas,”  tegas Heppy.

Dulu, kata Heppy, ketika ada seorang Sukarno yang membangkitkan semangat untuk merebut kembali Irian Jaya yang masih dikuasai Belanda banyak anak-anak Bugis dan Makassar yang ingin berenang karena semangatnya terbakar dan jiwanya yang terbangun.  “Hanya menunggu seekor ayam jantan yang berkokok saja untuk membangun anak-anak bumi Angin Mammiri ini,” urai Heppy  sambil menyebut gelar Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan Dari Timur.  Kokok ayam jantan itu pertanda  fajar mulai menyingsing, layar Phinisi siap terkembang maka gelombang bukan lagi halangan. Karena jika layar sudah terkembang pantang biduk surut ke belakang.

Heppy  Trenggono datang ke Makassar untuk meresmikan pendirian  Debt Free Centre  (DFC) Makassar.  Debt Free Center ini  semacam posko konsolidasi  bagi mereka yang berkomitmen membangun diri dan membangun bangsanya.  Terutama mereka yang memiliki masalah dalam membangun bisnis dan kehidupan. “Debt Free itu adalah sebuah konsep tentang bagaimana kita bermain kaya. Bebas hutang itu artinya bagaimana jiwa dan pikiran kita bebas dari belenggu dan perbudakan hutang karena kita menguasai ilmunya,” kata Bachtiar, Koordinator DFC Makassar.  Ilmu itu, akan diajarkan dalam DFC ini oleh kader-kader Beli Indonesia yang telah memiliki sertifikat sebagai seorang Ambassador.  (one)

Leave a Reply