Jadilah TIM SUKSES AGAMA DAN BANGSA (1)

Malang, November 2018. Hakekatnya perebutan kekuasaan selalu membawa intrik dan konflik yang bisa mendalam dan berkepanjangan. Hal itu di ungkap Heppy Trenggono dalam acara Malang Business Series yang di gelar beberapa waktu yang lalu (24/11) ketika menyinggung maraknya aksi dukung mendukung namun menjurus pada tindakan tidak sehat dalam hubungan bertetangga, persahabatan bahkan keluarga. Jangan karena beda pandangan politik kita jadi bermusuhan. Jangan pula karena beda pilihan politik hubungan keluarga putus.

Dalam sejarah di tuturkan Ken Arok naik tahta dengan membunuh tungguh ametung, ken arok kemudian di lengserkan dengan cara dibunuh oleh Anusapati (anaknya Tunggul Ametung). Demkian kisah perebutan kekuasaan silih berganti hingga saat ini di era kerajaan modern tetap membawa sifatnya dengan berkonflik dan ber-intrik.

Bangsa Indonesia menyadari bahwa perebutan kekuasaan harus dikanaliasasi, sehingga cukup dilokalisir, diwakil rakyat saja, dengan sila ke 4 Pancasila. Sayangnya Pancasila kini telah ditinggalkan, perebutan kekuasaan di lempar ke masyarakat. Mereka di “paksa” berkonflik dan berintrik.

Lanjut Heppy, sebagai pribadi kita tetap memilih untuk menunjukkan tanggung jawab kita dalam membangun agama dan bangsa. Sedang kan Gerakan Beli Indonesia lahir sebagai gerakan politik kebangsaan. Beli Indonesia bergerak dalam ruang dan waktu yang lebih besar dan luas, tidak membatasi diri dalam belahan ruang kontestan dengan waktu 5 tahunan.

Jadilah tim sukses agama dan bangsa. Yang tidak tersekat dalam bingkai kontetasi 5 tahunan. Maka berpeganglah pada cita-cita kemerdekaan bangsa ini sebagai bentuk dan arah kemana bangsa ini akan dibawa. Selama dalam kodridor itu selalu terbuka ruang-ruang untuk kembali membangun sinergi dan mitra penyeimbang sehingga siapapun yang sedang diamanahi memagang kendali nahkoda perjalanan bangsa dan Negara tetap menuju titik dimana cita-cita kemerdekaan bangsa ini di gantungkan. ANS

Leave a Reply