Gema Beli Indonesia dari Suara Surabaya 100,0 MHz

image-bi_now

Surabaya, 16/06/2015 Begitu mendengar kalimat “Beli Indonesia dan Bela Indonesia” pikiran saya lalu melayang, bertanya-tanya, apakah Indonesia mau dibeli? Apa sudah terjual? atau seperti apa, tutur Ema, Penyiar Suara Surabaya FM yang memandu dialog malam itu mengupas tentang Gerakan Beli Indonesia. Dalam pengantar pembukaannya, juga terbesit pertanyaan, apakah gerakan ini akan bernasib sama dengan “Cinta Produk Indonesia”, ramai sesaat lalu hilang begitu saja tanpa tahu arah ujungnya.

Hadir dalam dialog itu adalah Sekjen PP IIBF Teguh Riyanto bersama sahabat pejuang Beli Indonesia dari Surabaya dan Tuban. Dalam penjelasannya, Teguh menyampaikan bahwa Beli Indonesia adalah gerakan yang dilandasi oleh kegelisahan bersama, bukan hanya dari para pelaku usaha, tetapi seluruh elemen masyarakat, bangsa dan negara. Indonesia menjadi surga bagi produk bangsa lain, lihatlah dari bangun tidur hingga tidur lagi, cek kamar mandi, dapur, ruang tamu, adakah produk anak bangsa di sana? Membangun karakter dan kesadaran bangsanya untuk melakukan pembelaan terhadap produk-produk anak bangsa, itulah yang menjadi ruh perjuangannya. Nuril Huda salah seorang pejuang beli Indonesia di Tuban, juga mencontohkan, mahalnya beras di Jepang, tetapi anda jangan bermimpi bisa ekspor beras ke sana, meskipun harga beras impor lebih murah, mereka tidak akan beli, mereka akan tetap membeli beras dari hasil petani mereka sendiri, karena mereka memahami bahwa produk asing artinya ekonomi buat bangsa lain, dengan membeli beras hasil jerih payah petani Jepang, mereka ikut membela bangsanya, menunjukkan pembelaan terhadap saudaranya.

Beli Indonesia itu bukan gerakan anti asing, kami lahir karena kita Indonesia. Beli Indonesia juga gerakan anti penjajahan ekonomi gaya baru.

Ini kenyataan yang menjadi misi perjuangan rekan-rekan pejuang Beli Indonesia, Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) tak hentinya menggelorakan gerakan ini dalam berbagai waktu dan kesempatan. Ini adalah jihad kami untuk terus bergerak dan ambil bagian dalam membangun karakter bangsa serta bertumbuh untuk menguasai pasar negeri demi masa depan bangsa ini.

Membeli produk Indonesia itu bukan hanya perkara lebih murah atau lebih baik kualitasnya, tapi karena itu produk bangsa sendiri, saudara kita sendiri. Jangan karena harga dan kwalitas yang belum seperti yang kita harapkan lantas kita kritik habis dan tidak membeli. Kasih kesempatan produk saudara kita agar berkembang, sebagaimana bangsa ini memberikan kesempatan pada produk China yang kwalitasnya sangat rendah pada awalnya, tetapi karena terus dibeli, hari ini produk mereka sudah bagus kwalitasnya. Beli dan berikan kritik yang membangun agar produk tersebut tetap menghasilkan keuntungan dan digunakan untuk sarana perbaikan kualitas, tutur Choirul Hidayat, Koordinator Wilayah IIBF Jawa Timur, NTT, NTB Papua.

“Boleh saja kita melakukan kritik dan saran terhadap produk saudara kita, tapi tetap harus dibeli dulu produknya” celetuk Maftuhin, pengusaha telekomunikasi asal Tuban.

Kehidupan ini adalah kehidupan ekonomi. Tidak merdeka secara ekonomi kemungkinan besar tidak merdeka dalam kehidupan. “Produk dan pembelaan itu simbol ekonomi sebuah bangsa” tegas Teguh, di mana ada sebuah harapan di tengah masyarakat, sebuah optimisme kebangkitan melalui gerakan membangun kesadaran untuk saling melakukan pembelaan terhadap hasil karya anak bangsa, ini harus kita lakukan jika kita ingin memenangkan percaturan ekonomi dunia, jika itu tidak terjadi maka bisa dipastikan perekonomian Indonesia akan semakin terpuruk, apalagi MEA akan segera berlangsung awal tahun 2016 nanti, bisa jadi ini akan semakin mempersulit ekonomi bangsa Indonesia. Dengan dukungan dana tak terbatas, produk asing itu siap menyerbu Indonesia, itu menjadi ancaman serius bagi bangsa ini. (rizal)

Posted in Gelora Beli Indonesia.

Leave a Reply