Beli dan Bela Depok, Upaya Menguasai Pasar Captive untuk Ekonomi Rakyat

image-bi

Depok, Juni 2015. Hidup itu seperti permainan. Sebagaimana baiknya sebuah permainan, pasti ada pemain dan ada juga penonton. Sehebat apapun penonton tidak menentukan permainan. Paling maksimal dia hanya berkomentar, baik bernada positif maupun negatif. Menjadi pemain maupun penonton adalah sebuah pilihan. Begitu juga Indonesia dalam percaturan ekonomi dunia. Dibekali dengan kekayaan alam yang melimpah, penduduknya terbesar ke empat di dunia, namun memilih menjadi penonton sehingga tidak menghantarkan bangsa ini pada kejayaan. Sebagai contoh, ekspor Singapore empat kali lipat dibandingkan Indonesia pada tahun 2008. Padahal Singapore tidak memiliki tambang emas, batubara, minyak bumi, gas bumi, hutan, air saja mereka beli dari Johor.

Pasar besar di Indonesia hanya menjadi surga bagi produk Asing, lihat produk yang kita kenakan dari ujung kepala hingga ujung kaki adakah produk buatan bangsa sendiri? Untuk sebab itulah segenap tokoh masyarakat, Pemerintah Kota Depok beserta steakholdernya berinisiatif meluncurkan sebuah gerakan kebangkitan, yaitu Beli dan Bela Produk Depok.

Atas prakarsa pengusaha asal Depok, Acep Azhari didukung penuh pemerintah kota Depok, berbagai elemen kepemudaan, serta tokoh masyarakat maka Deklarasi Beli dan Bela produk Depok pun digelar di RM Gabus Pucung, Depok. Tujuannya adalah menguasai pasar captive untuk kepentingan ekonomi bangsa sendiri. ”Tentunya dengan mengganti kebutuhan harian kita dengan produk-produk yang dibuat di negeri sendiri dan dimiliki oleh orang sendiri. Dengan begitu ekonomi kerakyatan akan bergerak mensejahterakan masyarakat dan bangsanya”, jelasnya.

Beli dan Bela Produk Depok merupakan semboyan untuk mengajak masyarakat membangun perekonomian Kota Depok dengan mengutamakan produk sendiri ketimbang produk Asing. Dukungan pemerintah, masyarakat serta semua pihak terhadap produk lokal diharapkan Depok khususnya mampu menghadapi persaingan global maupun Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di akhir 2015 mendatang. Wakil Wali Kota Depok KH. DR. Idris Abdul Somad, MA menerangkan ideologinya adalah Beli dan Bela Produk Sendiri. “Kalau kita bisa membeli produk sendiri baru kita bisa menang melawan Globalisasi dan MEA yang sebentar lagi akan kita songsong,” katanya. Dengan dicetuskanya “Beli dan Bela Produk Depok” adalah sebuah panggilan jiwa untuk meluncurkan gerakan pro-rakyat di akhir masa pemerintahannya sebagai seorang Wakil Wali Kota Depok.

Makin merajainya produk Impor dalam pasar Nasional hingga ke pelosok daerah di Indonesia, termasuknya di kota Depok mengakibatkan produk lokal kesulitan untuk memasarkan di negeri sendiri.

Dalam sambutannya, Wakil Walikota Depok berpesan agar Gerakan ini disosialisasikan dan menyentuh hingga ke RT-RT, melalui jaringan yang ada, seperti Camat, Lurah, karang taruna maupun organisasi kepemudaan lainnya, pesantren, sekolah-sekolah, dengan begitu diharapkan segera ada geliat ekonomi.

Salah beli bisa berakibat fatal. Hari ini contohnya, jumlah rakyat yang banyak tidak mampu dimanfaatkan sebagai kekuatan dalam membangun ekonomi, justru menjadi berkah buat produk Asing, akibatnya ekonomi rakyat Indonesia sulit dikarenakan masyarakat Indonesia kurang peduli terhadap produk yang dibelinya. Maka jika kita sudah mulai peduli terhadap apa yang kita beli maka kebangkitan itu hanya soal waktu, dan pasti itu dekat.

Pemimpin Gerakan Beli Indonesia, Ir. Heppy Trenggono yang turut menghadiri dan memberikan arahan dalam deklarasi tersebut mengajak segenap masyarakat kota Depok untuk ambil bagian dalam membangun perekonomian kota Depok. Gempuran produk Asing dari China, Korea, Jepang, Amerika mesti kita sikapi dengan cerdas. “Dengan kekuatan capitalnya, produk Asing bisa iklan setiap hari melalui televisi, namun jika tidak dibeli maka itu tidak artinya. Kita yang putuskan produk mana yang akan kita beli!,” terang nya. Dengan begitu setiap kita bisa menjadi pejuang bagi bangsanya hari ini.

Lebih dari itu, kita menginginkan menjadi bangsa yang jaya, sejahtera dan berprestasi. Tidak ada pilihan seperti yang penting bisa survive dalam menghadapi Globalisasi. Bangsa pintar berfikir menang, bukan yang berfikir tidak kalah. ANs

Leave a Reply