Produk Indonesia itu Bukan Tentang kandungan Lokal

Palembang, 16/07/2012.  Jika produk Indonesia itu ukurannya pada kandungan lokal, maka semua  barang yang ada di Indonesia hari ini adalah produk Indonesia.  Freeport itu sangat Indonesia karena semua kandungannya lokal dan 100% Indonesia.  Demikian juga dengan tambang-tambang minyak bumi dan gas  yang  dikuasai asing  juga sangat Indonesia karena kandungannya semua lokal. Bahkan pekerja yang ada di dalamnya 97% adalah anak-anak Indonesia. “Dulu VOC melakukan hal yang sama mempekerjakan anak-anak negeri ini untuk mengambil dan menguasai kekayaan kita yang semuanya milik Indonesia. Tetapi mengapa kita menyebut mereka penjajah?” kata Aswandi  As’an  retoris, di depan 48 pengusaha di sebuah hotel di Palembang, Rabu malam.  Bedanya, lanjut Aswandi  dulu Belanda mengambil dengan cara paksa menggunakan kekuatan militer, hari ini mereka menggunakan soft power seperti  informasi, LSM, isu global untuk menguasai undang-undang  kita  agar mereka leluasa mengambil kekayaan itu tanpa kita merasa terjajah.

Kebingungan mendefinisikan  tentang  produk Indonesia  dan  bukan produk Indonesia karena tidak mengacu pada ending of the game dari produk itu.  Sebuah produk  bukan produk an sich, tetapi ada hal substansi di balik produk itu untuk  pembangunan  ekonomi sebuah negara.  Sebuah negara itu kuat secara ekonomi jika memiliki  tingkat produksi  yang tinggi  bukan tingkat konsiumsi tinggi.  Pertanyaannya kemudian, produk seperti apa yang bisa membuat ekonomi sebuah negara itu kuat?  “Yang pasti bukan produk yang  sekedar memiliki kandungan lokal,” tegas Aswandi.  Sebab kalau itu ukurannya maka semua produk yang ada di Indonesia hari ini bisa disebut sebagai produk Indonesia tetapi tidak memberi  dampak untuk pembangunan ekonomi negara. Bahkan sebaliknya membuat negara ini terjajah dan bergantung pada bangsa lain hanya untuk hal-hal kecil  dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

“Saya curiga, siapa yang membuat definisi  produk Indonesia  berbasis kandungan lokal itu? jangan-jangan pihak asing lagi di belakangnya karena mental  inlander  kita berhadapan dengan orang lain,” kata Aswandi  dengan nada tinggi.   Sama  seperti  yang  dilakukan oleh delegasi China yang datang ke Indonesia mendorong-dorong  supaya pengusaha kita meningkatkan industri  kreatif  dengan produk unik  untuk dipamerkan di Nanning, China Selatan.  Sementara mereka sendiri  membuat segala jenis kebutuhan, mulai dari  elektronik, kendaraan,  pakaian, produk pertanian, teknologi dan lain-lain untuk dibawa ke Indonesia. Oleh Indonesia dorongan itu direspon  dengan mengangkat menteri yang khusus mengurus ekonomi kreatif dalam kabinet  Indonesia Bersatu.  “Secara bisnis  yang mana paling banyak dibeli orang, produk kerajinan atau produk kebutuhan sehari-hari?”  tanya Aswandi.  Kita pikir kita untung dengan tawaran fasilitas pameran gratis di kota-kota China Selatan itu, padahal tanpa kita sadari bahwa barang-barang China yang masuk ke dalam negeri  melalui pengusaha-pengusaha kreatif itu jauh di atas barang-barang kreatif yang mereka pamerkan di China itu.

“Dalam definisi  kita ada tiga jenis produk,”  jelas Aswandi.  Pertama, produk A. yakni produk yang dibuat di Indonesia dan dimiiliki oleh orang Indonesia. Ini yang disebut dengan produk Indonesia.  Kedua, produk B, yakni produk yang dibuat di Indonesia tetapi dimiliki oleh asing. Ini namanya produk asing. Ketiga, produk C, yakni produk impor.  Dan produk yang harus dibela adalah produk A, karena produk itulah yang akan membuat ekonomi rakyat dan bangsa menjadi kuat.  Produk lain boleh dipakai jika produk A benar-benar tidak ada.  “Definisi itu adalah tool sederhana untuk melihat mana produk Indonesia dan mana yang bukan,”  ujar Aswandi.  Jika tidak kita akan bingung. Apalagi kalau hanya  berdasar pada kandungan lokal, karena selain kehilangan subtansi dan pokok soal, kita juga akan sibuk untuk menghitung dan mengukur kandungan sebuah produk, ketika orang lain sibuk menjual produknya.  (AA)

Kirim ke teman

Komentar

Kamu harus logged inuntuk mengisi komentar.

Cari Berita

Twitter

Social Media