Kyai Ma’ruf : KEU Untuk Ciptakan Arus Baru Ekonomi Indonesia

Jakarta – Untuk kali pertamanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Kongres Ekonomi Umat yang di gelar pada 22-24 April 2017 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat.  Kongres ini dibuat untuk mencari solusi permasalahan ekonomi yang melanda sebagian besar rakyat Indonesia apalagi kalangan bawah.

Di tengah kondisi perekonomian global yang tengah melorot, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2016 terbilang cukup tinggi. Dengan pertumbuhan 5.02 persen, Indonesia diklaim hanya kalah dari India dan China. Kendati demikian pertumbuhan ekonomi ini tidak dibarengi dengan pemerataan ditengah masyarakat. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin kian melebar.

Maka menjadi tantangan tersendiri untuk mendesain sebuah sistem ekonomi baru yang menjadi tatanan ekonomi nasional yang berkeadilan dan merata sebagaimana tertuang dalam ideologi Pancasila dan UUD 1945.

“kita berharap kongres ini merupakan tonggak yang akan membangun sistem ekonomi baru di Indonesia, berlandaskan Ideologi Pancasila dan UUD 1945” ungkap Kyai Ma’ruf Amin dalam sambutan pembukaannya.

Keinginan untuk berkontribusi dalam peningkatan ekonomi nasional melalui penguatan ekonomi umat kental terasa, tidak hanya dari kalangan akademisi dan kampus saja, ada juga pesantren, ormas, pengusaha dan asosiasi, hingga para profesional yang turut hadir dalam kongres itu.

Mantan Ketua DPR RI 2009-2014 Marzuki Alie yang juga hadir dalam kongres itu menyambut baik gagasan tersebut. Namun Marzuki memberi catatan khusus prihal adanya MOU dengan konglomerasi besar di tanah air. Pasalnya dikhawatirkan umat hanya menjadi objek persaingan pemain besar.

“Penandatangan itu (MOU: red) Choirul Tanjung dengan transmart nya, justru bisa membuat umat terperangkap dalam objek persaingan bisnis retail. Yang kita butuhkan adalah keadilan dan kesetaraan akses. Apakah boleh petani/UMKM yang barangnya kongsinyasi dengan dia (transMart) membayar dipotong dagangan yang di titipkan?” tegasnya.

Samsul Huda, peserta Kongres dari Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) Lampung juga mengutarakan pandangannya bahwa arus baru ekonomi Indonesia bisa benar-benar terwujud jika melibatkan semua komponen dengan sebuah pendekatan pembangunan karekter.

“Indonesia itu sangat luas, penduduknya banyak, namun yang termarjinalkan secara ekonomi juga umat. Agar tercipta Arus baru ekonomi Indonesia sehingga ketimpangan ekonomi tidak semakin lebar dengan pertumbuhan ekonomi yang merata, harus didorong oleh sebuah gerakan ideologis, gerakan pembelaan untuk menggunakan produk dan jasa karya umat. Tanpa itu Arus Baru Ekonomi Idonesia hanya slogan saja” terang samsul di sela-sela kongres.

Membuat umat menjadi ikut memainkan peran ekonomi Indonesia itulah arus baru ekonomi Indonesia yang sesungguhnya. Bukan monopoli pihak atau golongan tertentu. Kesamaan dalam akses permodalan dan jaringan. Dan itu akan terjadi jika ditumbuhkan rasa pembelaan terhadap produk dan jaya karya umat itu sendiri. Ans