BUEKA dan “Melin”, Langkah Cerdas ‘Aisyiyah Entaskan Kemiskinan

foto1410201

Oleh : Ahmad Nursodik, Penggerak Beli Indonesia

Jakarta – Kuat dalam ingatan ketika pada bulan agustus 2011 dihadapan Ibu-Ibu ‘Aisyiyah di Yogyakarta, Pemimpin Gerakan Beli Indonesia yang juga Presiden IIBF menyampaikan prihal “4 Tanda Bahaya Besar Bangsa Indonesia” dua diantara tanda bahaya itu adalah meluasnya kemiskinan dan kembalinya dominasi asing. Lebih menyedihkan lagi angka kemiskinan di Indonesia bisa naik dan turun sewaktu-waktu tergantung siapa yang membuat dan menentukan indikatornya.

Kemiskinan itu tercermin dari diberlakukannya otomomi kampus, angkatan bersenjata sulit untuk pengadaan alutsista baru dan hanya mampu membeli alat-alat bekas dari negara lain, anak-anak bangsa terpaksa mengis rejeki di negeri orang, bahkan pengangguran dalam negeri mencapai 40 juta orang atau setara dengan jumlah penduduk Australia. Oleh karenanya Gerakan Beli Indonesia mengajak ‘Aisyiyah dan segenap anak bangsa lain untuk terus bahu-membahu menumbuhkan pembelaan terhadap produk dan karya anak bangsa sendiri.

‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang kirah dan sepak terjangnya telah memberikan corak tersendiri dalam perjalaan bangsa Indonesia merespon dengan sangat cepat. Bukan basa basi jika masalah kesenjangan sosial ekonomi sebagai ancaman serius. Kesenjangan terjadi karena banyaknya rakyat miskin dan pengangguran di Indonesia. Salah satu gerakan taksis yang diambil ‘Aisyiyah adalah dengan mengembangkan BUEKA (Bina Usaha Keluarga Aisyiyah) serta memproduksi deterjen MELIN, sebuah kelompok usaha home industry yang dirintis untuk memajukan taraf kehidupan masyarakat khususnya dalam pengentasan kemiskinan dengan memberdayakan ekonomi rakyat kecil dan menengah serta pengembangan ekonomi kerakyatan keluarga besar ‘Aisyiyah sendiri.

“Bahan baku dan formula kita kirim dari pusat, di cabang-cabang hanya mencampur, packing dan distribusi, sehingga ibu-ibu dengan pendidikan tidak tinggi pun mampu untuk melakukannya” cerita Latifah Iskandar, Ketua MEK PP Aisyiyah.

Kunci membangun ekonomi yang kuat adalah pasar, apalagi memiliki captive market, hal ini disadari betul oleh salah satu organisasi perempuan tertua di Indonesia ini. Ketua Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) PP “Aisyiyah, Dra. Hj. Latifah Iskandar menguraikan bahwa dengan kekuatan jaringan Muhammadiyah dan keluarga ‘Aisyiyah-nya, BUEKA dan Melin memegang pernan strategis karenanya banyak ibu-ibu rumah tangga yang bisa berperan aktif dalam menggerakkan potensi ekonomi keluarga, bahkan daerahnya.

“Kini rata-rata percabang sudah mampu memproduksi 2 ton diterjen perhari untuk memenuhi kebutuhan anggota serta jariangan yang kami rintis. Salah satu strateginya adalah dengan membuat gerakan 1 kg diterjen per keluarga” ungkap Latifah Iskandar.

Atas respon dan upaya PP ‘Aisyisyah melalui BUEKA dan MELIN nya sebagai langkah taktis mengentaskan kemiskinan yang terjadi ditengah bangsa Indonesia, bersamaan dengan pelaksanaan Kongres Beli Indonesia ke dua di Jakarta (5/10), dengan bangga Gerakan Beli Indonesia menganugerahkan penghargaan Pangaji Danadyaksa, Beli Indonesia Award 2016 kepada PP ‘Aisyiyah.

Pangaji Danadyaksa adalah sebuah penghargaan yang diberikan kepada institusi, komunitas, atau organisasi kemasyarakatan yang bekerja dengan visi kemandirian ekonomi anak bangsa melalui program-program yang mampu menumbuhkan sikap pembelaan terhadap produk sendiri serta memunculkan karakter nasionalisme ekonomi.

Apabila produk dan karya anak bangsa kita beli, maka industry akan bertumbuh, dengan begitu lapangan pekerjaan akan tercipta, sehingga tidak perlu lagi anak-anak bangsa kita mengais makan di negeri orang sebagai pembantu.

Ke depan semoga strategi BUEKA dan MELIN dalam mengentaskan kemiskinan, menjadi inspirasi banyak organisasi atau kamunitas lain di Indonesia.

Save

Save

Save