Entaskan Kemiskinan dengan Bela dan Beli Kulonprogo

kulonprogo

Beliindonesia.com, Jakarta – Pemkab Kulonprogo konsisten untuk terus melakukan upaya pengetasan kemiskinan, langkah nyata yang diambil adalah dengan mengupayakan kemandirian ekonomi bagi rakyatnya, “Bela dan Beli Kulonprogo” itulah spiritnya, sebuah gerakan untuk mengangkat perekonomian daerah dengan langkah menjadikan produk lokal sebagai tuan rumah di pasar sendiri ditengah gempuran produk asing di era globalisasi dan pasar bebas.

“Integrasi ke dalam system perdagangan internasional dan perdagangan bebas tidak dapat di hindari, ini harus kita sikapi secara cerdas, yaitu dengan sebuah ideology yang kuat, membela dan membeli produk sendiri untuk menjadikannya tuan rumah di negeri sendiri. Bela dan Beli Kulonprogo adalah wujudnya. Ini saya terjemahkan dari gerakan Beli Indonesia versi lokalnya” jelas Bupati Kulonprogo, dr. Hasto Wardoyo, S.P.OG (K).

Bupati menyampaikan bahwa gerakan “Bela dan Beli Kulonprogo” dimulai dengan mewajibkan setiap PNS membeli beras produksi petani Kulonprogo, 10 kilogram per bulan. Bahkan beras “raskin” yang dikelola Bulog setempat, kini menggunakan beras produksi petani Kulonprogo.

“tidak mudah mengganti raskin menjadi rasda, setidaknya saya butuh waktu 2 tahun untuk meyakinkan dirut bulog. Daerah saya kan penghasil beras, sakit rasanya jika raskin justru menggunakan beras dari impor” ujarnya.

Tidak berhenti disitu, langkah mewujdukan kemandirian daerah terus dikembangkan salah satunya adalah membuat PDAM mengembangkan usaha, dengan memprodusi air kemasan merk AirKu (Air Kulonprogo). AirKu kini menguasai seperempat ceruk pasar air kemasan di Kulonprogo. Melalui Gerakan Bela dan Beli Kulonprogo pula pemda menutup beberapa minimarket berjaringan dan menggantinya menjadi Toko Milik Rakyat (TOMIRA), yang dimiliki oleh koperasi.

Banyak kebijakan yang ditelurkan sebagai bentuk pembelaan terhadap ekonomi daerahnya. Dibantaranya mewajibkan pelajar dan PNS di sana mengenakan seragam batik gebleg renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu. dengan jumlah 80.000 pelajar dan 8.000 PNS, kebijakan ini mampu mendongkrak industri batik lokal. Sentra kerajinan batik tumbuh pesat, dari cuma 2 menjadi 50.

Begitu ideologi terbangun, produk dengan sendirinya bertumbuh. Sejak di deklarasikan pada tahun 2012, “Bela dan Beli Kulonprogo” telah melahirkan banyak produk lokal yang terserap oleh pasarnya sendiri, sebut saya Batu Andesit, Gula Semut, teh dan Kopi Suroloyo, begitu juga senam angguk seri 1 dan 2.

Program ini juga telah menurunkan angka kemisikinan dari 22,54 persen pada 2013 menjadi 16,74 persen pada 2014 dan pada akhir 2015 tercatat angka kemiskinan tinggal 52.331 jiwa atau 12%.

“salah satu program mengurangi kesenjangan ekonomi, kami menelurkan program bedah rumah yang dilakukan setiap pekan, dananya hasil swadaya dari masyarakat, pengerjaannya secara “sambatan” atau gotong royong, sebuah karakter yang mulai luntur hari ini. Setidaknya sudah lebih dari 3.000 rumah orang kurang mampu yang kami bedah” tambah Hasto.

Selain mampu mewujudkan kemandirian ekonomi, program Bela dan Beli Kulonprogo juga dinilai bisa mensejahterakan masyarakat sekaligus menimbulkan rasa bangga akan keunggulan produk dalam negeri. Demikian disampaikan dr Hasto Wardoyo usai menerima penghagaan ‘Beli Indonesia Award Panji Cakra Buana 2016’ yang digelar oleh Gerakan Beli Indonesia di Nareswara Room, Gedung Smesco Jakarta, Rabu (5/10).

Kulonprogo kini menjadi inspirasi  bagi pemerintah daerah di Indonesia. Sang bupati sangat percaya bahwa “Membangun ekonomi hanya bisa dilakukan jika kita memiliki ideologi”. ANS