Kuasai Pasar Jika Ingin Melindungi Ekonomi Rakyat

berita-today-ok

Jakarta – Sebagai produsen kelapa terbesar didunia, dengan areal tanaman sekitar 3,88 juta Ha dengan produksi sekitar 3,2 juta ton setara kopra. Indonesia tak punya kekuatan untuk mengendalikan harga kopera di pasar dunia. Harga kopera justru dikendalikan oleh negara-negara yang bukan penghasil kopera. Kopera dikendalikan harganya oleh bursa berjangka di Rotterdam, Belanda.

Hal ini disampaikan Heppy Trenggono, Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) dalam sebuah acara persiapan pameran dan kongres Beli Indonesia pada 3-5 Oktober 2016 di Gedung SMESCO Jakarta, yang di lakukan sebuah komunitas di cibubur kemarin (27/9). Heppy mencontohkan kisah pilu para petani kopra di Halmahera Utara.

“Bagaimana tidak, harga kopra yang biasanya 12.000,-/kg menjelang panen terus merosot ke 6.000,-/kg lalu terjun bebas ketika musim panen tiba menjadi 2.000,-/kg. Bupatinya sampai bingung dan itulah yang diutarakan ketika tim beli Indonesia berkunjung ke Halmahera tahun lalu” jelas Heppy menirukan gaya Bupati Halmahera waktu itu, Hein Namotemo.

Negara yang bukan penghasil kopera tersebut justru memegang kendali, bahkan di saat terjadi kekurangan pasokan kopera di pasar dunia, harga kopera bisa mereka tekan. Anomali tersebut terjadi karena lemahnya posisi tawar negara-negara eksportir kopera, termasuk Indonesia.

“Di situ kita sangat lemah dikarenakan pasar/market tidak kita kuasai. Disitulah Bulog seharusnya menjadi perantara market bagi para petani. Sayangnya Bulog tidak melakukannya. Itu pengakuan pak Bupati Bulog tidak masuk, yang ada Unilever. Mereka datang langsung dan beli dengan harga 2.000,-/kg”.

Heppy menyarankan agar Bupati meminta Unilever untuk membeli dengan harga normal yaitu 12.000,-/kg, sayangnya mereka tidak mau dengan beralasan tidak kuasa menahan harga pasar Rotterdam. Menarik untuk dicermati, Unilever biasa beli dengan harga Rp. 12.000,-/kg lalu sekarang beli Rp. 2.000 alasannya tidak kuasa melawan harga pasar? Mereka beli untuk bahan baku sabun, sampo, di mana produknya itu juga dijual di sini, di Indonesia. Apakah harga sabun dan sampo Unilever ikut turun?” tanya pemimpin gerakan beli Indonesia kepada audien yang hadir, pertanyaan serupa juga ditanyakan kepada Bupati Halmahera.

Uang selisihnya lari ke mana?? Harga turun bukan karena persediaan kopra mereka berlebihan, tetapi karena harga di bursa Rotterdam turun. Itulah yang mereka sebut dengan mekanisme pasar, sedangkan harga komoditi kopra di Rotterdam, juga Unilever sendiri yang menguasai.

Di tengah arus globalisasi yang sangat deras, gegap gempitanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia harus segera berbenah untuk menciptakan ketahanan perekonomian rakyat agar mereka tidak semakin menderita. Fenomena ambruknya perekonomian rakyat seperti di Halmehera bukan sebuah kejadian tunggal. Hal ini juga terjadi di berbagai sektor lain seperti pertanian, perternakan, pasar tradisional, warung-warung serta berbagai sektor lainnya terus terjadi dan mewarnai hari-hari rakyat Indonesia di seluruh pelosok tanah air.

Peraih anugerah Tokoh Perubahan Republika 2011 itu mengajak segenap anak bangsa mulai dari hari ini, kita harus membangun dan membela negeri sendiri, melepaskan pakaian primordial yang menjadi sekat pemisah antar anak bangsa dan berganti dengan baju ikhram yang bernama Indonesia.

Kalau pak bupati mau buat sabun sendiri dan rakyat halmahera mau beli sabun buatan sendiri maka sejak saat itu yang atur harga kopra bukan orang lain lagi, tapi anda sendiri.

“Membeli produk sendiri berarti kita membela bangsa dan saudara sendiri. Inilah pertahanan terakhir menghadapi gempuran produk asing untuk menghindari terjadinya bencana ekonomi Indonesia ke depan. Jika produknya dibeli maka akan bertumbuh industri-industri. Jika industri tumbuh maka tidak perlu lagi anak-anak negeri ini pergi ke luar negeri menjadi TKI karena mereka mudah mendapatkan penghidupan di negeri sendiri” Pungkas Heppy.