Pejuang Itu Dulunya Anak Yatim Penjual Rujak

Lampung, 08/03/2014. Di balik senyum dan tawanya yang  renyah  serta candanya yang kerap membuat orang terpingkal, tidak banyak yang tahu jika pengusaha itu pernah mengalami masa lalu yang getir.  Pernah tinggal di panti asuhan ketika ayahnya meninggal saat dia masih kelas 2 SD. Namun sang ibu meyakinkan agar anak-anaknya jangan ada yang tinggal di panti asuhan, meskipun dia harus membesarkan anak-anaknya sendirian. “Sebagus apapun panti asuhan jauh lebih baik jika anak itu tinggal di dalam lingkungan keluarga,” kata Ulul mengenang. Maka ketika berkumpul lagi bersama ibu dan saudara-saudaranya, Ulul Azmi membantu ibunya dengan jualan makanan kecil. “Saya jualan dawet, kue dan makanan ringan, hingga rujak manis,” katanya sambil menyebut beberepa tempat di Sidoarjo tempatnya jualannya dulu. SMP, dia mengambil jahitan di sebuah pabrik sepatu untuk dikerjakan di rumah bersama ibu dan saudara-saudaranya.

Lulus SMA keinginan  untuk melanjutkan kuliah  kandas. “Sedih sekali melihat kawan-kawan melanjutkan kuliah sementara saya harus tetap tinggal di kampung,” katanya memelas.  Tidak ingin berlarut-larut dengan kesedihan, Ulul melamar menjadi Salesmen pakan ternak.  Motivasi kuat karena pengalaman masa kecil dan dorongan untuk keluar dari lilitan kesulitan selama ini membuat membuat Ulul menjadi seorang salesman berprestasi dengan tingkat penjualan fantastis.  Ilmu jualan yang diperoleh dari pengalaman sebagai salesman itu membuatnya berniat untuk mendirikan usaha sendiri. “Modal saya hanya kepercayaan. Hubungan baik dengan manager di beberapa perusahaan pakan ternak memberi saya ruang untuk bisa menjual tanpa harus menngunakan modal sama sekali,” kisah Ulul.

Badai Besar

Di puncak keberhasilannya sebagai seorang pengusaha distributor pakan ternak dan tambak,  tiba-tiba muncul kerusuhan di Lampung yang menimpa sebuah group perusahaan tambak udang yang selama menjadi customer utamanya. Akibatnya, semua barang yang sudah terkirim tidak dibayar dan semuanya itu menjadi tanggungannya kepada principal. “Total hutang saya waktu itu 7 miliar rupiah,” ungkap Ulul. Setelah dibayar dengan menjual asset-asetnya Ulul masih menyisakan utang Rp. 3 miliar. Karena tak ada lagi asset yang bisa dijual untuk membayar hutang, Ulul pasrah dan menyatakan dirinya siap dipenjara. “Namun pihak principal menolaknya,” kata Ulul. Sejak itulah kemudian Ulul memutuskan pindah ke lampung dengan memboyong keluarganya.

Semua mulai dari awal lagi, bahkan dari titik minus karena dia membawa beban hutang Rp. 3 miliar. Jika dulu  Ulul menyasar para pemain besar,  Ulul memulai dari para petani udang. Pengalaman dan pengetahuannya tentang tambak udang  membuatnya cepat memahami pasar. “Saya sasar petambak kecil karena mereka kalo beli barang bayarnya cash,” kata Ulul.  Lagi pula partai besar sudah dikuasai pemain besar yang memiliki modal kuat. Ulul meyakini bahwa besar dan kecil skala bisnis, tidak menentukan kuat tidaknya  bisnis kita. Karena besarpun tidak berarti kuat, tetapi jika sudah kuat untuk menjadi besar lebih mudah.

Memilih jadi Pejuang

Perjalanannya menyusuri pantai timur Sumatera yang terbentang dari Lampung hingga Jambi menemukan kenyataan bahwa sektor peternakan dan perikanan Indonesia sangat bergantung pada pemain asing.   Asing menguasai mulai dari hulu hingga hilir. Mereka menguasai hingga pemain-pemain kecil di  peternakan milik rakyat.  “Peternakan itu yang terbesar cost ada di pakan. Menguasai pakan berarti menguasai sector ini,” jelas Ulul.  Dan semua pabrik pakan ternak raksasa di Indonesia tidak satu pun yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.  Belum lagi bahan baku pakan itu harus  impor dari luar negeri.  Demikian juga obat-obatan untuk ternak dan tambak  juga dikuasai asing.  “Merekalah yang menentukan harga daging ayam dan telur di dalam negeri kita. Karena selain pakan mereka juga menguasai bibitnya,” kata Ulul.   Ulul mengaku tidak memahami mengapa sector  yang sangat strategis untuk ekonomi rakyat ini juga diserahkan kepada asing.

Jatuh bangun membangun bisnis dan kehidupannya selama  ini memunculkan satu kesimpulan dalam diri  Ulul bahwa  ekonomi menjadi titik pertahanan terlemah di masyarakat kita.  Tidak sedikit yang kehilangan sumber penghidupan karena masuknya investor besar ke wilayah mereka. “Tidak ada yang memprotek dan memperjuangkan nasib masyarakat akar rumput ,” ungkap suami Dian Kartika ini.  Bisa difahami jika kemudian  masyarakat itu berontak dan melakukan perlawanan  karena itu satu-satunya jalan mempertahankan hak dan sumber penghidupannya.  “Ada low trust di masyarakat terhadap semua kebijakan yang datang dari atas  karena seringnya mereka diingkari. Apapun kebijakan yang turun sudah dianggap sebagai upaya menyingkirkan mereka dan pembelaan kepentingan  pemilik capital,”  tegas Ulul.    Akibatnya, sering terjadi konflik antara masyarakat dengan aparat di beberapa wilayah.  Masalah pokoknya adalah  ketidakadilan ekonomi.

Kini, Ulul bersama kolega dan timnya kerap berkeliling dari satu tempat ke tempat lain  menemui berbagai kelompok masyarakat untuk berbagi ilmu tentang membangun ekonomi.  “tergantung pada kondisi yang ada dan siapa yang kita hadapi,  mahasiswa kita ajarkan ilmu jualan, masyarakat ada yang a ajar merajut jala yang hasilnya kita beli, dan lain-lain,” jelas Ulul.  Dari apa yang dilakukannya, Ulul tidak melihat besar dan kecil dampaknya terhadap masyarakat.  Menurutnya satu orang saja yang berubah ekonomi dan kehidupannya  sudah lebih dari cukup. Apalagi jika perubahan itu  bisa dialami oleh banyak orang.  “Tugas kita itu hanya berjuang  membangun orang lain menjadi lebih baik, selebihnya serahkan saja kepada Allah  Subhanahu wa Taala,” katanya mengakhiri  (2as)