Indonesia Membutuhkan Semua Profesi

Mataram, 26/02/2014. “Bang, saya ini mahasiswa hukum dan bercita-cita menjadi seorang ahli hukum, tapi saya bingung di kampus saya semua diarahkan untuk jadi entrepreneur. Apakah saya harus menguburkan cita-cita saya dan segera menjadi pengusaha?”  tanya seorang aktifis mahasiswa Universitas Mataram (Unram), Mataram,  Sabtu siang.  Penanya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir Unram  yang mengaku galau dengan thema entrepreneurship  yang diusung hampir semua kampus di Indonesia hari ini.  Seolah-olah profesi yang baik itu hanya pengusaha.  Dia bertanya kepada  Kader Beli Indonesia, Aswandi As’an, yang diundang ke Mataram untuk berdiskusi dengan para aktifis mahasiswa itu di kota itu.

“Entrepeneurship itu bukan pekerjaan atau profesi tetapi mentalitas,” jawab Aswandi.  Seorang entrepreneur  pun  belum tentu entrepreneurship karena banyak yang menjalankan usahanya seperti seorang pegawai  atau  pekerja.  Meski sekilas dia pengusaha tetapi dia tidak entrepreneurship karena mentalitasnya seorang pekerja.  Sebaliknya, ada orang yang statusnya pegawai tetapi dia seorang yang entrepreneurship, mampu mengelola uang dan waktunya secara baik yang membuat  dia hidup sebagai orang kaya.   Namun ada juga pengusaha yang hidupnya susah, hutang dimana-mana, siang malam ditongkrongi debt collector hingga dia kehilangan kehidupan dan bisnisnya.  Mengapa?  Dia mengelola bisnisnya tidak dengan entrepreneurship.

Tentang tema entrepreneurship yang sedang menjadi  trend di Indonesia saat ini,  tidak bisa lepas dari kebiasaan bangsa kita.  Selalu berada di dua titik ekstrim yang berlawanan, jarang berada di tengah-tengah.  “Bila dulu entrepreneurship tidak pernah dilirik sama sekali sekarang apapun dikaitkan dengan entrepeneurship. Ada socialpreneurship, technopreneurship, kreatipreneurship dan lain-lain yang ada ship-shipnya itu,” kata Aswandi berseloroh.  Semua itu baik-baik saja jika diletakkan dalam satu pemahaman bahwa semuanya  harus kita kelola dengan mentalitas entrepr eneurship.  “Karena entrepreneurship itu artinya bermain kaya,”  tegas Aswandi.   Meskipun asset berlimpah jika kita tidak bisa bermain kaya,  maka semuanya tidak bisa menjadi kekayaan.  Contohnya, Indonesia punya segalanya tetapi bangsanya masih hidup miskin.  Bandingkan dengan Singapura yang tidak punya apa-apa tetapi bangsanya kaya.

Maka untuk menjadi kaya kita bisa jadi apa saja, arsitek, desainer, ahli hukum, ilmuan, dokter, ahli mesin dan lain-lain.  Dan Indonesia membutuhkan itu semua untuk bangkit menjadi bangsa kaya, kuat, berprestasi dan disegani.  Karena begitulah kehidupan yang telah ditetapkanNya, tiap-tiap orang bekerja sesuai dengan skill dan kemapuannya.  Asalkan kita memiliki mentalitas entreprenenurship atau bermain kaya dalam menjalani profesi itu.  Entrepreneurship bukanlah atribut yang hanya dimiliki oleh para pengusaha, tetapi harus dimiliki semua orang, terutama para pemimpin. Pemimpin yang tidak entrepreneurship hanya akan jadi sasaran permainan orang lain, kekayaan alamnya  menjadi rebutan dan negerinya menjadi incaran bangsa penjajah.   “Tidak tahu apa akan diperbuat, bingung  membedakan antara pujian dan jebakan,  bahkan tidak memahami mana pencuri  dan mana orang yang loyal,” kata Aswandi sambil terkekeh.

“Menurut abang, apakah  calon-calon pemimpin bangsa  yang beredar hari ini, sudah memiliki  mentalitas entrepreneurship ini?”  aktifis mahasiswa itu menyela dan mencoba memancing.  Dengan menarik nafas sejenak, Aswandi  menjawab,”Persisnya saya tidak tahu, karena saya tidak kenal satu-satu orang yang anda maksud.”  Namun, lanjut Aswandi, siapapun pemimpin bangsa ini, kita harus memastikan  dia  seorang yang entrepreneurship, cerdas ekonomi dan piawai bermain kaya.  Tanpa itu kita tidak bisa membangun ekonomi.  Jika ekonomi tidak terbangun maka kesejahteraan bangsa tidak bisa kita wujudkan.  (2as)