Mengapa Harus Pasar Tradisional..?

Bandung, 19/11/2012 Tradisional  tidak selalu identik dengan  sesuatu yang  using dan ketinggalan zaman. Namun  kata itu terlanjur disandingkan dengan kata  “Modern” untuk  mengungkapkan  kemajuan dan  hal-hal yang up to date.  Padahal jika dilihat dari sejarah munculnya,  kata  Modern  tak lebih sebagai  mantera kapitalisme untuk menguasai sumber daya alam dan manusia.   Karena Modern sudah terlanjur menjadi  kiblat baru, yang membuat hampir semua orang mengidentifikasi diri dengan hal-hal yang dilabelkan dengan kata itu,  dan menghindari hal-hal yang berbau tradisional. Apakah tradisonal itu sesuatu yang harus kita hindari sepenuhnya atau sesuatu yang sesungguhnya kita perlukan dalam hidup?

Pasar.  Terbentuknya pasar bermula dari pertemuan orang-orang  yang memiliki  barang dan jasa dengan mereka yang membutuhkan barang dan jasa itu untuk memenuhi kebutuhannya.  Dari situ kemudian terjadilah transaksi  kedua belah pihak.  Maka dalam satu pasar ada ribuan pedagang  yang menjual barang dan jasanya di situ, mulai dari pedagang  beras, tempe, tahu, sayur, ikan, daging, pakaian,  alat-alat rumah tangga, dan lain-lain.  Penjual jasa juga ikut mengais  rezki di tempat itu mulai dari tukang pikul, tukang cukur, tukang parkir dan lain-lain.  Singkat kata, dalam sebuah pasar ‘tradisional’ ada ribuan orang yang mencari kehidupan di dalamnya.  Tidak sekedar itu, pasar  tradisional membuat interaksi pedagang dan pembeli lebih dekat dan saling mengenal satu sama lain.

Keadaan yang ramai dengan  berbagai  transaksi  yang melibatkan ribuan pedagang  yang mendapatkan kehidupan  di pasar itu tiba-tiba terhenti  ketika  sebuah bangunan besar  pasar modern berdiri. Pembeli yang  tadinya  mencari berbagai kebutuhan di pasar tradisional itu beralih ke pasar modern itu.  Mengapa mereka beralih? karena  apa yang tidak ada di pasar tradisonal itu disiapkan oleh pemilik pasar modern itu dengan segala macam iklan dan tawaran yang menghipnotis.  Dan ribuan pedagang yang tadinya  medapatkan kehidupan di pasar tradisional harus kehilangan nafkah  karena hadirnya satu orang yang memiliki kapital.  Dengan kekuatan modalnya  dia bisa melakukan apa saja untuk menguasai  pasar yang ada di wilayah itu.  “Itulah kapitalisme,” kata Pemimpin Gerakan Beli Indonesia. Maka memberi  ruang lebar  bertumbuhnya pasar modern  yang tidak terkendali  sama dengan menyuburkan kapitalisme dan membiarkan dia menguasai kehidupan  anak bangsa kita.

Maka sangat ironi ketika wacana ekonomi kerakyatan digembar-gemborkan tetapi  di waktu yang sama rakyat kita  sulit mendapatkan  ruang hidup  di negeri sendiri.  “Pasar tradisional itulah ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya.  Sebaliknya pasar modern itu  kapitalisme yang kasat mata,”  tegas Heppy.  Maka tinggal menimbang kemana arah pembangunan ekonomi kita hari ini? Apakah mal-mal  dan pasar modern  yang bertumbuh atau pasar tradisional yang dipelihara?  Apakah warung-warung kecil milik rakyat yang dihidupkan atau minimarket modern yang  berkuasa?   Keadaan ini belum lagi termasuk produk yang ada di pasar modern itu. Politik eksklusivitas yang diterapkan pasar modern  membuat pengusaha kecil  atau home industri tidak akan bisa menembus jaringan distrubsusi  mereka.  Karena pasar modern hanya memasarkan produk-produk yang  kuat dengan modal yang kuat.

“Maka ibu-ibu,  kalo belanja pergilah ke warung sebelah. Tanyakan kepada penjualnya mana produk Indonesia,” kata Heppy  yang ditujukan ibu-ibu anggota Persis Jawa Barat, Senin siang, di Bandung.  Heppy Trenggono diundang dalam Muswil  Persis Jawa Barat untuk  berbicara tentang entrepreneurship.   Menurut Heppy dalam sistuasi ekonomi seperti hari ini, setiap komunitas seperti  Persis harus membangun produk dan pasar sendiri untuk  memenuhi kebutuhan sendiri.  Dengan sendirinya semua anggota akan terlibat dalam transaksi itu apakah sebagai distributor, agen, pedagang  dan lain-lain. Dengan cara ini tidak hanya ekonomi organisasi atau komunitas itu yang akan terbangun tetapi juga ekonomi para anggotanya  juga akan ikut tumbuh. (2as)

Kirim ke teman

Komentar

Kamu harus logged inuntuk mengisi komentar.

Cari Berita

Twitter

Social Media