3 Prinsip Agar Ekonomi Pesantren Bangkit

Beliindonesia.com, Puncak Bogor – sampai saat ini, mayoritas umat Islam di Indonesia belum sepenuhnya menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri. Penguasaan asset bidang sosial, politik dan ekonomi menjadi indikator lemahnya kekuatan umat. Tanpa memiliki kekuatan itu, umat islam belum bisa menjadi yang terdepan dan memimpin peradaban.

Pada Februari 2017 contohnya, kita dibuat tercengang dengan paparan hasil survei Oxfam International yang menyatakan indonesia berada di peringkat keenam dalam kategori ketimpangan distribusi kekayaan terburuk di dunia. Sebelumnya Oxfam juga merilis, harta empat orang taipan terkaya di Indonesia sama dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Data ini mengacu pada data kekyaan global (Global Wealth Databook).

Menyadari tantangan yang dihadapi semakin kompleks dengan kekuatan ekonomi umat semakin termarginalkan membuat para kyai, cendikia, ulama, habaib dan pengusaha urun rembuk mencari solusi hingga lahirlah Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) sebagai lokomotif. Sehingga pada 8-9 April di yang lalu, bertempat di wisma DPR RI Puncak Bogor, Bidang Kerjasama antar pesantren YP3I menyelenggarakan rakernas yang dihadiri lebih dari 160 perwakilan pesantren dari 16 provinsi seluruh Indonesia. Pemimpian Gerakan Beli Indonesia, Ir. Heppy Trenggono diminta memberikan arahan mengenai bagaimana pedoman implementasi sinergi ekonomi pesantren dalam rakernas tersebut.

“meski kita sedang di negara yang berbeda, keberadaan teknologi telah memudahkan kita untuk tetap menjadi silaturohim, saling berbagi semangat untuk berkhidmad kepada pesantren” ujar Pemimpin Gerakan Beli Indonesia melalui skype.

Menurut Tokoh Perubahan Indonesia versi Republika itu, ada 3 prinsip utama yang harus sama-sama dipahami agar sinergi ekonomi pesantren ini terjadi, tidak mudah namun harus dilakukan atau umat akan semakin termarjinalkan. Dahulu merebut dan mempertahankan kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari peran pesantren wabil khusus kyai dan santri, namun seiring perjalanan bangsa Indonesia, “peranan” itu kian terpinggirkan, lebih banyak hanya dijadikan basis atau kantong-kantong pemilih saat pemilu, pasca itu kita sudah tahu jawabannya.

Pertama, Prinsip Kebangkitan Ekonomi Umat, hal ini menyangkup 2 aspek utama yaitu 1. Kebangkitan bisa terjadi karena gerakan ideologi dan 2. Kelangsungan usaha bisa terjadi karena disiplin bisnis. Tanpa ideologi dan pembelaan yang jelas kebangkitan ekonomi umat sulit di wujudkan. Membangun ekonomi itu sederhana, falsafah orang minang mengatakan, “jualan kemana saja, beli dari orang sendiri” jika ini mengalir dalam denyut nadi kita, insyaAllah kebangkitan hanya soal waktu. Lalu point no. 2 Meski di topang dengan ideologi namun kelangsungan bisnis terjadi karena disiplin bisnis. Memahami kebutuhan konsumen, disiplin dalam keuangan, management, dll tanpa itu bisnis bisa berbalik menjadi mesin masalah.

Kedua, Prinsip Produk. Ini juga menyangkup 2 aspek utama, 1. Produk harga wajar, kualitas bisa diterima Artinya begini, kita harus memberikan kesematan untuk produk-produk umat untuk tumbuh. Layaknya memberikan kesempatan pada produk china. Dulu pertama kali keluar produk china di kenal memiliki kwalitas rendah. Namun sebagian kalangan memberikan pemakluman, yah wajar, namanya juga produk china. Namun sekarang sudah jauh berbeda, mengapa demikian? karena dibela dan diberi kesempatan. Sekarang saatnya produk umat yang di beri kesempatan.

Selanjutnya aspek nomer 2 (dua) adalah Harga murah lebih disukai, produk milik umat lebih di utamakan, maksudnya adalah ada kalanya bukan persoalan harga namun milik siapa. Tentu masih ingat bagaimana petani kentang dieng tidak bisa berjualan hasil taninya lantaran gempuran kentang dari china yang membanjiri pasaran denga harga 2.300, s/d 2.500,-/kg sedangkan ongkos tanam petani 5.000,-/kg. Jika sudah menjadi pemahaman persama aspek ini, petani dieng tidak perlu bergelimbangan, kebingungan bagaimana menjual hasil pertaniannya. Dan yang seperti ini sangat sering terjadi di Indonesia dan bukan hanya pada produk kentang saja. Tanyakkan pada tani sekarang menanam apa yang menguntungkan sekarang? Harga cabe tinggi tidak pernah dinikmati petani, karena begitu musim panen tiba, cabe impor membanjiri pasaran. Jadi mengutamakan produk umat harus menjadi kesadaran untuk mewujudkan sinergi ekonomi pesantren.

Dan ketiga, Prinsip Pembangunan Karakter. Prinsip ini juga memiliki 2 aspek utama, nomer 1 (satu) adalah Banyak orang yang ingin berjuang, tidak semua memiliki komitmen. Sedari awal harus kita fahami, karena yang kemungkinan rontok juga ada, atau apa yang diharapkan terjadi pada pesantren belum tentu mendapat respon seperti yang diharapkan, jadi tidak usah mengeluh, kerjakan saja.

Aspek nomer 2 (dua) dari prinsip ketiga ini adalah Tugas dakwah adalah membangun karakter. Tanpa karakter apapun menjadi sulit untuk dibangun. Ada pepatah bijak mengatakan, “jika kamu kehilangan harta sesungguhnya kamu tidak kehilangan apapun. Jika kamu kehilangan kesehatan sesungguhnya kamu kehilangan sesuatu, yang dulu bisa melakukan menjadi terbatas dan tidak bisa melakukan. Tapi jika kamu kehilangan karakter, sesungguhnya kamu kehilangan segala-galanya”. Pendiri NU Kyai Hasyim Asya’ari  pernah berpesan, dakwah itu merubah orang menjadi baik. Itulah pembangunan karakter. ANS

Posted in Berita Utama.

Leave a Reply